Selasa, 03 Desember 2013

RELEVANSI TEORI TERHADAP KASUS (Observasi: Budaya Tradisional "Mapag" Bayi Lahir)

RELEVANSI TEORI TERHADAP KASUS,

(Observasi: Budaya Tradisional "Mapag" Bayi Lahir).



Budaya Indonesia.
Budaya tradisional “mapag” bayi lahir merupakan suatu budaya yang terdapat pada masyarakat Sunda secara umum, secara khusus budaya ini ada pada masyarakat sunda dusun Sindanghayu, daerah Ciamis – Jawa Barat. Budaya tradisional “mapag” bayi ini adalah budaya yang dilakukan masyarakat sekitar yang dilakukan ketika ada seorang anak yang baru dilahirkan, secara spontan warga masyarakat (tetangga) berbondong-bondong melihat bayi tersebut dan tidak hanya sampai disitu, ketika malam tiba warga masyarakat kembali datang kekediamannya untuk menemani bayi tersebut, ada yang hingga larut malam. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan sebenarnya tidak ada yang spesial, dalam artian adanya keharusan-keharusan yang perlu dilaksanakan. Aktivitas tersebut memang hanya bermaksud untuk menemani, hanya aktivitas kebiasaan-kebiasaan lazimnya bertamu saja.
Berdasarkan teori yang dicetuskan oleh para tokoh sosiologi tentang perubahan sosial, salah satunya adalah Auguste Comte (Johnson, 1986: 87) memandang perubahan itu bersifat evolusi atau secara lambat. Menurut Comte semua masyarakat berkembang dari satu tingkatan ke tingkatan yang lain. Idenya dirumuskan dalam sebuah konsep “Hukum Tiga Tahap” (Law of Three Stages). Comte (Ritzer, 2012: 25) berpandangan bahwa pemikiran manusia berubah dari tingkatan teologi, kemudian metafisika dan akhirnya pada tahap positif atau tahap rasionalitas. Pada tingkatan positif ini faktor-faktor intelektual memainkan peran yang utama, atau pun pada tingkatan positif ini kepercayaan pada ilmu dan rasionalitas yang menjadi dasar utama.
Studi kasus perubahan budaya tradisi “mapag” bayi lahir yang ada didaerah dusun Sindanghayu terdapat perubahan-perubahan yang terjadi. Dilihat dari teori Auguste Comte, dalam teori tiga tahapnya disebutkan bahwa (pemikiran) manusia berkembang dari satu tingkat ke tingkat yang lainnya. Bisa dilihat budaya tradisional “mapag” bayi lahir pada awalnya atau menurut Comte pada masa teologis, metafisis bahwa (pemikiran) masyarakatnya menganggap dengan menemani seorang anak yang baru dilahirkan akan mencegah dari gangguan roh-roh jahat yang bertujuan untuk mengambil bayi tersebut. Selain itu ada yang berpandangan pula agar tidak ada yang mengambil bagian-bagian dari bayi, seperti “ari-ari” bayi tersebut, misalkan untuk dijadikan syarat perdukunan dan lain sebagainya. Budaya tersebut semata-mata bertujuan untuk menjaga si Bayi dari gangguan-gangguan roh-roh jahat maupun manusia sendiri untuk dijadikannya syarat praktik-praktik perdukunan. Intinya pada masa itu pemikiran manusia masih bersifat mistis. Akan tetapi disana pandangan tersebut sudah berubah, menurut comte sudah masuk ke tahap Positifis, bahwa masyarakat dusun Sindanghayu, daerah Ciamis – Jawa Barat sudah tidak mempercayai lagi dengan pandangan tersebut, akan tetapi tujuan-tujuan menemani bayi tersebut sudah rasional yakni sebagai ungkapan rasa bahagia karena sudah terlahirnya seorang anak, ikut merasakan kebahagiaan bersama keluarga yang melahirkan anak tersebut. Tentunya bayi tersebut akan menjadi bagian dari masyarakat daerah dusun Sindanghayu disana.
Tokoh Sosiologi kenamaan Prancis, Emile Durkheim (Plumer, 2011: 25) memberikan pandangan tentang masyarakat, bahwa masyarakat berdiri dengan cara yang khas sebagai sebuah kenyataan kolektif atas individu-individu yang berada di dalamnya, juga terdapat perihal sosial yang menjadi sebuah fakta diluar individu yang merubah individu itu sendiri (atau sering juga disebut sengan “fakta sosial”).
Berdasarkan pemikiran Durkheim bahwa dalam masyarakat itu terdapat faktor-faktor diluar individu yang merubah individu, karena masyarakat merupakan kumpulan dari individu-individu maka perubahan individu tersebut akan berpengaruh terhadap masyarakat dan akan menghasilkan suatu kebudayaan. Perubahan yang terjadi pada tradisi “mapag” bayi lahir merupakan hasil dari faktor diluar individu yang merubahnya. Salah satunya melalui media. Media memberikan peran yang begitu dominan dalam perubahan sosial budaya. Misalnya, di era ­high-Teknologi dewasa ini seiring dengan pemikiran manusia yang begitu rasional, setiap informasi dipublikasikan lewat media yang akan merubah pemikiran manusianya itu sendiri. Lebih spesifik lagi pemaknaan terhadap budaya “mapag” bayi tersebut tentunya tidak akan lagi dipandang sebagai sesuatu yang mistis, dewasa ini akan di pandang secara rasional. Walaupun demikian tentunya masih tetap ada saja masyarakat yang masih berpandangan mistis. Akan tetapi cara umum pandangan rasional yang mendominasi masyarakat dewasa ini.
Sedangkan menurut Himes dan Moore (Soelaiman, 115) dimensi perubahan sosial itu meliputi dimensi perubahan struktural, dimensi kultural, dan dimensi interaksional. Disana tentunya jelas bahwa perubahan sosial meliputi dimensi kultural atau budaya. Bahwa budaya tradisional “mapag” bayi lahir mengalami perubahan, salah satunya dalam aspek pola pikir masyarakatnya.[]

OTORITAS (KEKUASAAN)

KEKUASAAN,
Oleh: Agus Mauluddin, Sosiologi V.





Otoritas (kekuasaan) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya[1]. Sedangkan dalam bukunya M. Taufiq Rahman disebutkan bahwa otoritas adalah kuasa yang telah sah, dilembagakan, legalitasnya jelas dalam suatu masyarakat atau sistem sosial.[2] Masih dalam bukunya M. Taufiq Rahman, disebutkan pula adanya istilah kuasa, yang memang secara esensial memiliki kesamaan makna dengan otoritas, yakni kuasa adalah kesanggupan seseorang atau kelompok untuk mencapai sesuatu, mengontrol atau mempengaruhi perilaku orang lain.[3] Kuasa merupakan konsep yang digunakan oleh sosiolog dengan berbagai cara. Bagi Weber, kuasa merupakan peluang seorang pelaku untuk memerintah individu-individu. Karena Weber mengartikan kuasa sebagai peluang seseorang atau kelompok untuk mencapai cita-cita atau suatu tindakan bersama walaupun tindakan tersebut ditentang oleh pihak lain.[4] Begitu juga Karl Marx menganggap bahwa kuasa politik sebagai suatu alat kelas pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan dan eksploitasinya terhadap kelas lain. Talcott Parsons lebih menganggap kuasa sebagai sistem sosial yang digunakan untuk mencapai pemeliharaan dan integrasi sistem sosial.[5]
Weber memberikan pandangan tentang macam-macam kekuasaan (otoritas), yakni sebagai berikut:
Otoritas Tradisional[6] menurut Weber adalah bentuk otoritas yang begitu berbeda dengan otoritas legal-rasional. Otoritas tradisional ini merupakan otoritas yang terjadi karena adanya penurunan otoritas atau pewarisan posisi. Weber menyebutkan:
“Otoritas tradisional didasarkan pada suatu klaim yang diajukan para pemimpin, dan suatu kepercayaan di pihak para pengikut, bahwa ada kebijakan di dalam kesucian aturan-aturan dan kekuasaan kuno.”
Otoritas Kharismatik menurut Weber merupakan sebuah otoritas yang tidak bisa terbeli, dalam artian bahwa kekuasaan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, tanpa melihat status ekonomi. Otoritas Kharismatik ini berkecenderungan terdapat pada orang-orang pilihan dalam suatu masyarakat. Misalnya karena kemampuan personal, sifat yang dimiliki, kepribadian yang dimiliki, atau pun manusia pilihan Tuhan di dunia. Misalnya seperti Isa, dan tokoh masyarakat (kharismatik).[7]
Otoritas Legal-Rasional diartikan Weber sebagai kekuasaan yang jelas legalitasnya. Weber memberikan pandangannya bahwa otoritas legal-rasional yang paling murni adalah birokrasi. Terdapat wadah atau sarana dalam “pemerintahan” dalam sebuah masyarakat yang sah dan memiliki legalitas. Birokrasi ini sebagai wadah dalam suatu struktur masyarakat yang cakupannya luas. Seperti dalam suatu masyarakat terdapat kepala desa, sekretaris desa, atau pun ketua RT (Rukun Tetangga) dan lain sebagainya. Selain itu cakupan makronya seperti Presiden, menteri-menteri, dan para Wakil Rakyat yang keseluruhannya mempunyai legal-rasional.[8]
Macam-macam otoritas[9] dimaknai sebagai sesuatu yang sederhana, dengan suatu percakapan agar mudah depahami.
-          Otoritas Tradisional: “Patuhi saya karena inilah yang selalu dilakukan masyarakat.”
-          Otoritas Karismatik: “Patuhi saya karena saya dapat mentransformasi kehidupan Anda.”
-          Otoritas Legal-Rasional: “Patuhi saya karena saya adalah atasan Anda secara hukum.”


[1] KBBI offline 1.5.1
[2] M. Taufiq Rahman, Glosari Teori sosial, Ibnu Sina Press, Bandung: 2011, h. 83
[3] Ibid, h. 65
[4] ibid
[5] Ibid, h. 66
[6] Ibid, h. 225-227
[7] Max Weber, Sosiologi (terjemahan), Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2009, h. 293-301
[8] George Ritzer, Teori Sosiologi (terjemahan), Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2012, h. 220-225
[9] Pip Jones, Pengantar Teori-teori Sosial, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta: 2010, h. 116-117

Sistem Organisasi Sosial Kampung Naga


Kampung Naga
Potret kampung adat di Desa Neglasari, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya Jawa Barat adalah Kampung Naga. Kampung Naga merupakan salah satu kampung adat yang ada di Indonesia yang masih memegang kuat nilai adat istiadatnya, walaupun memang sedikit banyaknya mengalami perubahan sosial seperti teknologi sudah masuk ke kampung naga walaupun tidak secara total. Akan tetapi tidak menjadikan kampung naga kehilangan jati dirinya sebagai kampung adat.
Kampung Naga terdiri dari 108 kepala keluarga, 314 anggota masyarakat dari bayi hingga lanjut usia. Terdapat 2 Sistem Organisasi Sosial disana, pertama, Sistem Organisasi Sosial Formal, kedua, Sistem Organisasi Non-Formal. Sistem Organisasi Sosial Formal yaitu Sistem Organisasi Sosial Pemerintahan, seperti RT, RW dan kepala dusun, yang dipilih secara demokrasi. Sistem Organisasi Sosial Non-Formal yakni Sistem Organisasi Sosial Adat.
Terdapat 3 lembaga adat pada masyarakat Kampung Naga, diantaranya pertama,  Kuncen  atau Juru Kunci. Juru kunci ini memupunyai tugas sebagai pemangku dan pengelola adat, disebutkan juga oleh informan bahwa pemangku juru kunci ini adalah pak Ade.  Kedua, lebe adat. Lebe adat ini mempunyai tugas yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Seperti misalnya ada anggota masyarakat yang meninggal dunia dari awal memandikan hingga akhir menguburkan oleh lebe adat tersebut. Pak Ateng Jaelani sebagai pemangku lebe adat di Masyarakat Kampung Naga. Ketiga, Punduh Adat yang mempunyai tugas “ngurus laku meres gawe” atau mengayomi masyarakat, pemangku punduh adat adalah pak Maun. Pemangku-pemangku adat tersebut regenerasinya secar turun temurun.
Ketika penulis melakukan observasi ke lapangan, memang penulis menemukan bukti empiris bahwa anggota masyarakat di Kampung Naga saling berdekatan dalam hal rumah mereka, dan memang cakupan lingkupnya hanya selingkup itu saja. Jelas bahwa menurut informan terdapat 108 kepala keluarga dan 314 anggota keluarga.
Disana peran sistem organisasi sosial memang begitu kentara, karena adat istiadat yang ada pada masyarakat Kampung Naga akan tetap ada dan tetap lestari, salah satunya tergantung bagaimana peran ketiga pemangku adat tersebut, lebih utama lagi punduh adat dan juru kunci dalam pemeliharaan adat istiadatnya.[]

By: Agus Mauluddin, Sosiologi V.

Minggu, 01 Desember 2013

HEGEMONI DALAM KEMASAN KEBIJAKAN REKTOR (Studi Kasus Tahfidz 1 Juz untuk Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung)


HEGEMONI
DALAM KEMASAN KEBIJAKAN REKTOR
(Studi Kasus Tahfidz 1 Juz untuk Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Oleh: Agus Mauluddin, Sosiologi VA




Fenomena masyarakat era dewasa ini menunjukan bahwa kesadaran akan sesuatu ditempatkan pada posisi yang setinggi-tingginya. Kesadaran akan realitas sosial yang ada, terindra, empiris, dan kritis begitu diperlihatkan oleh masyarakat secara umum, terutama bagi para penggiat intelektual seperti Mahasiswa. Mahasiswa sebagai agen sosial yang peka terhadap realitas sosialnya tersebut.
Kampus merupakan tempat lalu lalangnya  para pencari pencerahan. Mahasiswa sebagai aktor yang haus ilmu pengetahuan, dan kedahagaan Mahasiswa terhadap pencerahan, menjadikan kampus sebagai sarana untuk pemenuhan kebutuhannya tersebut. Kebutuhan para Mahasiswa akan pengetahuan diserahkan pada lembaga pendidikan, yakni kampus.
Sistem yang terdapat dalam lembaga pendidikan di tataran Mahasiswa, tentunya tidak terlepas dari struktural dan fungsi-fungsi pada strukturnya. Sistem yang selalu terkesan mendominasi para pencari pencerahan, yang berimplikasi pada hal yang positif maupun negatif. Sistem yang merupakan suatu hal yang selalu ada dalam setiap lembaga, yang tentunya bermacam dampak yang ditimbulkannya.
Dominasi para pemberi kebijakan terhadap objek yang diberi kebijakan begitu kentara jika dilihat dalam sebuah sistem sosial. Terdapatnya Hegemoni dari pihak pemberi kebijakan, tanpa disadari oleh objek yang diberi kebijakan tersebut. Karena hegemoni terkesan tanpa pemaksaan dan “kekerasan”. Hegemoni (Ritzer, 2012: 476) ini menurut gramsci diartikan sebagai kepemimpinan budaya yang dilaksanakan oleh kelas yang berkuasa. Kelas yang berkuasa menghegemoni atau mempengaruhi tanpa terkesan memaksa dan tanpa bernuansa kekerasaan, akan tetapi mempengaruhi tanpa disadari. Hegemoni menjadi suatu cara untuk melanggengkan kekuasaan kelas yang berkuasa.
 Kebijakan yang diputuskan oleh pemberi kebijakan dalam lembaga pendidikan kampus, yakni Rektor tentunya bernuansa hegemoni. Kebijakan yang dibalut dengan anjuran, atau hingga menjadi suatu keharusan, yakni diberlakukannya tahfidz minimal 1 Juz Al-Quran. Rektor memberikan kebijakan tersebut, dan menjadikan sebagai pra-syarat lulusnya perkuliahan (Wisuda). Diberlakukannya kebijakan tahfidz untuk setiap Mahasiswa yang akan wisuda, menjadi suatu keharusan dan merupakan hegemoni atau pengaruh dalam sebuah sistem yang harus ditaati tanpa disadari terpengaruhi dan tanpa merasa dipaksa.
Kebijakan tersebut menuai banyak tanggapan, setuju dan tidak setuju. Walaupun demikian, kebijakan tersebut tetap dipandang sebagai sesuatu yang “lazim”, karena Universitas Islam tentunya mengedepankan aspek agama. Dalam artian disana, diharapkan lulusan-lulusan UIN handal dalam agama, minimal menguasai 1 Juz dalam Al-Quran. Dengan kemasan tahfidz Al-Quran tersebut, Mahasiswa sedikit banyaknya merasa “berat”, karena kehausan akan pencerahan ilmu pengetahuan sedikit terbebani karena diharuskannya menghapal Al-Quran. Menghapal Al-Quran menjadi kewajiban baru para Mahasiswa, selain mencari ilmu pengetahuan di kampus.
Mahasiswa sebagai agen sosial yang peka terhadap realitas sosialnya, tentu memahami akan terdapatnya hegemoni dalam dunia empirisnya. Mahasiswa sebagai agen intelektual, berperan pula dalam mengontrol setiap kebijakan para pemberi kebijakan. Mahasiswa pun harus memiliki sumbangsih dalam kebijakan tahfidz 1 Juz Al-Quran ini, seperti misalnya diberlakukannya sistem gradual. Para Mahasiswa sudah bisa menghafal sejak awal masuk kuliah, tidak secara komprehensif langsung. []


Kamis, 17 Oktober 2013

Teori 5 Tahap Stalin


Teori 5 Tahap Stalin

Oleh: Agus Mauluddin, Sosiologi V




1.      Tradisional: Masyarakat (Primitif/Purba)
2.      Perbudakan: Majikan dan Budak
3.      Feodalisme: Pemilik Tanah, Raja dan Gereja
4.      Kapitalisme: Pemilik Modal, pemilik alat produksi
5.      Komunisme: Masyarakat Tanpa Kelas

Sources: konsep bersumber dari buku Dede Mulyanto, Kapitalisme Perspektif Sosio-Historis.

Teori 5 Tahap Walt Whitman Rostow


Teori 5 Tahap Walt Whitman Rostow
Oleh: Agus Mauluddin, Sosiologi V


1.      Tahap Masyarakat Tradisional (The Tradisional Society), memiliki karakteristik sebagai berikut:
-          Pertanian
-          Belum mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi / ”teknologi primitif”
-          Ekonomi sebagai sumber penghidupan
-          Adanya sistem barter
-          Hasil-hasil dikonsumsi sendiri tidak diperdagangkan atau bisa juga dibarter
-          Struktur Sosial Hierarki
2.      Pra- Kondisi Tinggal Landas (The Preconditions for Take-off), ditandai dengan:
-          Perbaikan Teknologi
-          Perbaikan Sistem Ekonomi
-          Terdapat lembaga dan organisasi tingkat nasional
-          Modal tersentralisasi negara
-          Pendirian industri-industri pertambangan
-          Peningkatan penggunaan modal dalam pertanian
-          Perlunya pendanaan asing
-          Tabungan dan investasi meningkat
-          Adanya elit-elit baru
-          Perubahan seringkali dipicu oleh gangguan dari luar
3.      Tahap Tinggal Landas (The Take-off), dengan ditandai:
-          Pertumbuhan Ekonomi Cepat
-          Perubahan Ekonomi Internasional
-          Industrialisasi meningkat
-          Tabungan dan investasi semakin meningkat
-          Peningkatan pertumbuhan regional
-          Tenaga kerja disektor pertanian menurun
-          Inovasi teknologi
-          Pengaturan kelembagaan (misalnya sistem perbankan)
4.      Menuju Masyarakat Mapan, ditandai dengan:
-          Dikotomi sektor industri dan pertanian
-          Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan
-          Penggunaan teknologi secara meluas
5.      Era High Mass-Consumption (Era Konsumsi Masal Tingkat Tinggi), dengan ditandai:
-          Peningkatan produksi barang-barang konsumsi
-          Proporsi kerenagakerjaan yang tinggi dibidang jasa
-          Peningkatan atas belanja jasa-jasa kemakmuran.

Catatan:
Memulai memang lebih sulit dari pada melanjutkan
Ide bisa berawal dari yang sederhana kemudian semakin kompleks

Sources: Akumulasi Materi

Minggu, 29 September 2013

Teori Sosiologi Klasik, Sumner hingga Sorokin


TEORI SOSIOLOGI KLASIK
Suatu Esensial
Oleh: Agus Mauluddin



1.      Charles Horton Cooley (Amerika, 1864-1929)
Lingkup            : Mikro
Fokus               : Individu
Metode            : Empiris, Observasi, Studi Kasus
Konsep            : 1. The looking glass self (cermin diri)
                          2. Primary Groups (Kelompok Primer)
2.      Vilfredo Pareto (Paris, 1848-1923)
Lingkup            : Mikro
Fokus               : Individu
Metode            : Metode Ilmiah, Observasi, Kesimpulan Logis.
Konsep            : 1. Prilaku Logis
                          2. Prilaku Non-Logis
                          3. Dynamic Equilibrium (Kritik masyarakat komunis Karl Marx)
                          4. Sirkulasi Elit
Statement         : Menolak Agama dan Filsafat dalam mengkaji Sosiologi
3.      George Herbert Mead (Amerika, 1863-1931)
Lingkup            : Mikro
Fokus               : Individu
Metode            : Indiktuf, interpretative
Konsep            : 1. Tindakan
-         Impuls >>> Dorongan hati karena ada stimulus
-         Persepsi >>> Penyelidikan terhadap impuls
-         Manipulasi >>> Mengambil tindakan terhadap objek
-         Konsumasi >>> Pelaksanaan untuk memuaskan dorongan hati
2. Gesture >>> Orgasme pertama yang mengstimulus
3. Mind (Pikiran) >>> Proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri, berpikir pada penyelesaian masalah.
4. Self (Diri) >>> Dengan mengambil peran orang lain kita mampu kembali, ke diri kita sendiri.
5. Society (Masyarakat) >>> Proses social tiada henti yang mendahului mind dan self

4.      William Graham Sumner (Amerika, 1840-1910)
Lingkup            : Makro
Fokus               : Struktur
Metode            : Empiris, Observasi, Studi kasus
Konsep            : 1. Folkways >>> Usages, manners, custome, mores.
2. Survival of the fittest
3. Ekonomi Liberal
4. In group dan Out group
5. Etnosentrisme
6. The struggle for survival, struggle for existence dan competition for live
Statement         : 1. Mendukung individualism, kapitalisme, dan ekonomi liberal (pasar bebas).
2. Menentang intervensi pemerintah, menentang imperialis, sosialisme
3. Perubahan social terjadi apabila folkways berkembang
5.      Robert Ezra Park (Amerika, 1864-1944)
Lingkup            : Makro
Fokus               : Budaya
Metode            : - Metode Ilmiah
-   Studi Kasus dan Sejarah
Konsep            : - Tatanan Ekologi
-  Interaksi
-  Kompetisi
-  Konflik
-  Akomodasi
-  Asimilasi
-  Evolusi
-  Social Distance >>> Individu jauh dengan kelompok, semakin kurang mempengaruhi
-  Prejudice (Prasangka)
-  Spontan, Insting untuk memelihara jarak sosial
-  Komunitas
6.      Thorstein Veblen (Amerika, 1857-1929)
Lingkup            : Makro
Fokus               : Struktur
Metode            : - Metode Ilmiah
-  Induksi Historis
-  Penelitian dampak sosiologis dari teknologi
Konsep            : - Evolusi Sosial >> Teknologi
-  Leisure Class (Kelas Mewah) >> Konsumsi / pemakaian adalah caranya
7.      Pitirim Sorokin (Rusia, 1889-1968)
Lingkup            : Makro
Fokus               : Struktur
Metode            : - Observasi
-  Studi Kasus
Konsep            : - Stratifikasi Sosial (Setiap Masyarakat)
-  Siklus Perubahas Sosial
-  Ideasional >> Bersifat non-material, transenden
-  Indrawi
-  Campuran >> antara Idea dan Indra
8.      Georg Simmel (Jerman, 1858-1918)
Lingkup            : Mikro
Fokus               : Struktur
Metode            : Studi Kasus
Konsep            :          - Interaksi, individu
·        Bentuk >> Kepentingan, tujuan dan maksud
·        Isi >> Insting erotic
-   Konflik